LINTASAN SEJARAH ISLAM (10): SASTRA ARAB PADA ZAMAN PERMULAAN ISLAM

LINTASAN SEJARAH ISLAM (10)

SASTRA ARAB PADA ZAMAN PERMULAAN ISLAM

Telah kita ketahui bahwa sastra Arab telah berkembang sebelum datangnya agama Islam. Namun dengan datangnya Islam terjadi perubahan mendasar. Sebelum Islam sastra Arab berkembang mengikuti tradisi lisan dan sedangkan sesudahnya sastra tulis yang berkembang, kendati tidak dengan senirnya sastra lisan mati.. Pada zaman pra-Islam penyar menyampaikan syair yang mereka karang secara lisan, Hanya beberapa penyair tertentu yang karya-karyanya direkam dalam bentuk tulisan. Syair-syair itu biasanya ditulis atas kulit domba dan unta serta daun papirus yang sudah dikeringkan. Syair-syair yang dituliskan itu pada umumnya merupakan karya penyair besar dan diletakkan di dinding Ka’bah. Sebagian besar syair yang ditulis itu pula tidak lengkap melainkan hanya potongan yang terdiri dari beberapa baris atau bait. Syair-syair yang dituliskan ini disebut mu`allaqat, artinya sajak-sajak yang ditaruh pada dinding Ka’bah.




Penyair-penyair mu`allaqat yang terkenal antara lain ialah Imr al-Qays, Zuhair bin Abu Sulma, Nabiqah al-Zuhyani, Tarafah bin al-`Abd, `Amr bin Kulam, Labid bin Rabi`ah dan Antarah. Beberapa di antara mereka memeluk agama Islam pada masa hidup Rasulullah. Misalnya, yang paling terkenal, ialah Labid bin Rabi`ah. Setelah memeluk Islam, Labid menjadi pembela Islam yang gigih melalui syair-syairnya.


Para penyair Arab sebelum Islam tidak hanya menulis mu`allaqat, tetapi juga bentuk pengucapan sastra lain seperti khotbah, peribahasa, legenda dan dongeng yang tidak kalah indahnya dari mu`alllaqat. Khaliah al-rasyidin pada umumnya menyampaikan pandangannya melalui khotbah atau peribahasa, serta aforisma yang indah. Di antara empat khalifah yang ucapannya sangat indah ialah Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar Siddiq.


Ciri-ciri karya sebelum Islam itu umumnya seragam. Selain syair-syair kepahlawanan suku, penyair-penyair Arab jahiliyah gemar sekali menulis syair-syair berisi ungkapan kebanggan terhadap kabilahnya dan garis keturunan mereka. Bentuk pengucapan sastra lain yang digemari ialah marasin (elegi),ghazal (sajak-sajak cinta, khususnya cinta berahi), sajak-sajak pemujaan terhadap anggur (khamriyah) dan ungkapan dendam kesumat kepada kabilah musuh.



Mu`allaqat adalah untaian syair panjang dan indah dengan sistem persajakan yang rumit. Yang paling terkenal sebagai penulis mu`allaqat sepanjang sejarah ialah Imr al-Qays. Sajak-sajaknya masih digemari orang Arab sampai saat ini dan dibawakan melalui nyanyian, sebuah tradisi yang tetap hidup sampai kini.


Bentuk syair lain yang digemari ialah qasidah, sajak-sajak pujian yang dinyanyikan. Yang disajikan dalam qasidah pada umumnya ialah pujian terhadap pahlawan suku dan orang yang dicintai seperti pemimpin dan gadis cantik. Jenis sajak cinta juga digemari, antara lain yang disebut nasib.Penulis-penulis Arab masih melanjutkan kegemarannya menulis sajak-sajak warisan lama ini setelah agama Islam datang. Hanya saja tema dan isinya sudah berubah serta diperluas. Pada abad ke-12 M bentuk puisi iini dikembangkan oleh penyair Mesir Syekh al-Busiri menjadi puji-pujian kepada Nabi Muhammad s.a.w (al-mada`ih al-nabawiya). Karya Syekh al-Busiri yang masyhur hingga kini dan dibacakan hampir dalam setiap perayaan maulid di berbagai pelosok Dunia Islam ialah Qasidah al-Burdah.



Puisi Masa Awal


Penerimaan terhadap agama Islam di kalangan bangsa Arab pada mulanya memang tidak banyak membawa perubahan terhadap perkembangan sastra Arab, juga tidak banyak memberi perubahan terhadap sifat-sifat, watak dan tabiat bangsa Arab. Lagi pula pada masa awal sejarah Islam, kesusastraan berkembang agak lambat. Hal ini terjadi karena banyaknya peperangan yang dihadapi kaum Muslimin yang begitu menguras tenaga kaum Muslimin sehingga tidak memberi peluang bagi kaum terpelajarnya, termasuk penyair, untuk memikirkan masalah-masalah kesenian dan kesusastraan. Pada awal abad ke-7 M, setelah Rasulullah wafat dan kepemimpinannya diganti oleh khalifah yang empat, satu-satunya bentuk kegiatan penulisan yang berkembang ialah penyusunan dan penulisan mushaf al-Qur’an.



Kendati demikian sebenarnya pada masa ini telah muncul beberapa penyair yang kreatif. Di antaranya ialah penyair-penyair yang disebut golongan mukhdramain, artinya penyair yang hidup dalam dua zaman, yaitu zaman Jahiliyah dan zaman Islam. Di antara mereka telah terdapat penyair yang menulis karya-karya yang dipengaruhi ajaran dan sejarah perkembangan Islam. Syair-syair yang mereka tulis kebanyakannya merupakan rekaman sejarah awal perkembangan agama Islam, khususnya perjuangan Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Walaupun sikap hidup penyairmukhdramain ini secara umum tidak berubah setelah memeluk agama Islam, namun karangan mereka cukup penting karena nilai sejarah yang dikandungnya.


Di antara penyair mukhdramain itu terdapat orang yang dekat dengan Rasulullah seperti Hasan bin Tsabit, Ka`aab bin Zubair, Ka`ab bin Malik dan Labid bin Rabi`ah. Hasan bin Tsabit misalnya sering mendampingi Nabi dan tampil dalam perdebatan dengan para penyair yang gemar merendahkan dan mengejek agama Islam. Bersama-sama Labid bin Rabi`ah, Hasan bin Tsabit dianggap sebagai perintis penulisan sajak-sajak pujian kepada Nabi Muhammad.


Perubahan besar dalam perkembangan sastra Arab terjadi setelah munculnya penulisan mushaf al-Qur’an, yaitu pada masa kepemimpinan khalifah Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Kegiatan penulisan mushaf al-Qur’an ternyata memberi pengaruh besar dan bermakna bagi perkembangan sastra Arab. Pengaruh langsung dari kegiatan tersebut ialah berkembangnya kajian terhadap teks kitab suci, terutama dari segi bahasa dan sastra. Semenjak itu orang Arab juga mulai giat mengumpulkan puisi lama dan cerita lisan warisan nenekmoyang mereka. Gaya bahasa dan puitika al-Qur’an kemudian semakin menarik perhatian para penyair Arab yang pada gilirannya kelak mempengaruhi corak penulisan puisi dan karangan prosa mereka.


Dalam tradisi Arab, puisi disebut manzun, yaitu komposisi (nazm) yang bahasanya terikat pada pola rima dan sajak. Prosa disebut mantsur, yaitu gubahan yang bahasanya longgar, tidak terikat pada pola rima dan aturan persajakan tertentu. Dari segi tema, amanat dan coraknya sastra Arab baru ini pun berbeda dari sastra Arab lama. Pada masa ini para sastrawan mulai mengaitkan sastra dengan adab, bahkan menyebut sastra sebagai adab, yaitu sikap dan perbuatan yang didasarkan pada akhlaq dan sopan santun. Adab juga dihubungkan dengan tingginya tingkat pendidikan dan pengetahuan yang dicapai oleh seorang penulis, serta kedewasaan dan kematangan pandangan hidup mereka. Berdasar pandangan ini maka sastra tidak hanya berisi ungkapan perasaan dan pengalaman hidup biasa sebagaimana kerap diartikan orang, begitu pula sekarang ini. Sastra lebih dari itu. Ia juga merupakan karangan yang menyajikan kearifan dan gagasan-gagasan penting kehidupan termasuk moral, al-hikmah dan spiritualitas.



Perubahan itu juga tampak dalam bahasa yang digunakan. Kaya-karya baru yang dihasilkan oleh penulis Muslim ini lebih halus, sedangkan isinya lebih universal. Puisi karya penyair zaman pra-Islam biasanya kasar dan nadanya sombong. Isinya pun tidak mendalam, sering hanya berkaitan dengan masalah-masalah sensual. Bahkan terdapat syair-syair zaman pra-Islam yang ditulis untuk mengejek kabilah musuh. Biasanya sajak-sajak seperti itu bisa menyulut sengketa dan permusuhan antar kabilah. Beberapa syair sengaja ditulis untuk menghina kabilah musuh. Untuk keperluan itu maka setiap kabilah mesti memiliki penyair andalan, yang setiap diharapkan dapat menulis syair-syair berisi jawaban terhadap syair ejekan dari kabilah lain.



Ali bin Abi Thalib


Apabila pada masa sebelumnya prosa tidak berkembang, karena kecintaan pada puisi yang mendalam, maka setelah agama Islam datang, prosa mulai bertunas dan memainkan peranan yang tidak kecil dalam adab dibanding syair. Tokoh yang dipandang sebagai penulis prosa paling awal dalam sejarah sastra Arab ialah Ali bin Abi Thalib (600-601 M). Dalam sejarah Islam, tokoh Ali bin Abi Thalib merupakan pemuda Arab pertama yang memeluk agama Islam. Dia adalah menanti Nabi dan terkenal sebagai orang yang berani membela Islam dan sangat terpelajar pula. Ketika Rasulullah masih hidup, dia pernah diberi tugas menjadi pengumpul wahyu yang diterima Nabi. Ali bin Abi Thalib menguasai bahasa Arab dengan baiknya, khususnya dialek Hejaz yang dianggap sebagai dialek bahasa Arab yang terindah pada zaman itu. Karya Ali bin Abi Thalib yang masyhur sebagai karangan prosa pertama yang indah dalam sastra Arab ialah Nahj al-Balaghah (Jalan Terang). Kitab ini merupakan kumpulan khotbah, peribahasa, kata-kata mutiara dan surat-surat bernilai sastra. Dia menggantikan Usman bin Affan sebagai khalifah al-rasyidin keempat dan sekaligus khalifah terakhir. Sebuah syairnya dituliskan pada banyak batu nisan makam raja-raja Pasai dan Malaka pada abad ke-14 dan 15 M.


Pada zaman Ali bin Abi Thalib inilah muncul dua penyair wanita terkemuka, yaitu Tumadir bin Amr (lebih dikenal sebagai al-Khansa’) dan Layla al-Akhyaliyal. Keduanya penulis nasarin, yaitu elegi atau sajak-sajak sedih. Kesedihan yang sering mengilhami syairnya biasanya ialah kematian orang yang dekat dengan penyair. Nasarin memang merupakan bentuk syair yang digemari oleh para penyair Arab zaman permulaan. Banyaknya peperangan yang terjadi dalam sejarah awal perkembangan Islam, mendorong lahirnya banyak syair seperti ini.


Ali bin Abi Thalib sendiri menulis sejumlah syair religius yang indah. Salah satu di antaranya ialah yang dipahatkan pada batu nisan makam raja Samudra Paasai di Aceh abad ke-13 M:



Dunia ini fana, tiada kekal



Bagaikan sarang laba-laba


O kau yang menuntut terlalu banyak


Cukupkanlah yang kauperoleh selama ini



Ada orang yang berumur pendek


Namun namanya dikenang selamanya


Ada yang berusia panjang


Namun dilupa sesudah matinya



Dunia ini hanya bayang-bayang



Yang cepat berlalu


Seorang tamu di malam hari


Mimpi seorang yang tidur nyenyak


Dan sekilat cahaya yang bersinar


Di cakrawla harapan



Jenis syair lain yang berkembang pada masa ini ialah syair-syair zuhudyah, yang kaitannya dengan ajaran Islam lebih jelas dibanding banyak jenis syair Arab yang lain. Syar-syair zuhudiyah ditulis oleh penyair yang menyukai tafakkur, ibadah dan amalan yang menjunjung tinggi akhla serta adab. Penyair-penyair zuhudiyah lebih suka memilih hidup dalam kesalehan dan tafakur sebagai bentuk kekecewaan meeka terhadap meluasnya gejala hidup serba mewah di lingkungan masyarakat Muslim. Di antara penyair zuhudiyah yang awal ialah Abul Aswab al-Du`ali (w. 681 M). Dia adalah seorang ulama besar, pakar Hadis dan hukum Islam. Al-Du`ali juga dikenal sebagai orang terpelajar pertama yang menciptakan tanda-tanda baca dan titik dalam al-Qur’an untukk membedakan harakatnya dan memudahkan pembacaannya. Syair-syair al-Du`ali kebanyakan bertemakan ketawakkalan dan kesalehan. Dia sering menyeru pembacanya agar supaya ingat mati dan hari akhirat. Syair-syair jenis lain yang ditulis olehnya terutama ialah hija’ (satire) dan madah, yaitu syair-syair berirama indah yang dibuat untuk dinyanyikan.



Pada akhir abad ke-7 M muncul pula penyair Arab terkemuka yang membawa pembaruan cukup berarti, yaitu Umar bin Abi Rabi`ah (643-712). Dia hidup pada zaman gemilang pemerintahan Daulah Umayyah di Damaskus. Umar bin Abi Rabi`ah berasal dari kabilah Quraysh ban Makhzun. Ayahnya pernah diberi tugas oleh Nabi untuk menyebarkan agama Islam di Yaman. Menjelang akhir hayatnya dia banyak menulis syair-syair zuhudiyah. Gaya bahasanya sangat halus dan ekspresif.


Pada awal abad ke-8 M, sebuah tradisi baru dalam penulisan syair muncul, yaitu penulisan syair-syair untuk dinyanyikan, tetapi berbeda dari madah. Jenis syair baru ini disebut al-sy`r al-ghina(syair pelipur lara). Di antara tema-tema yang digemari oleh para penulis syair al-ghina’ ialah tema-tema erotis dan sensual, serta mujun, yaitu tema-tema yang menyimpang dari ajaran agama dan moral. Pada masa ini pulalah mulai muncul penyair-penyair yang gemar mengembara untuk berdakwah dengan cara membacakan dan menyanyikan syair-syair mereka. Syair yang didakwahkan itu dinyanyikan sehingga menarik perhatian bagi pendengarnya.


Jenis syair lain yang juga digemari dan muncul pada zaman ini ialah al-ghazal al`uzri, yaitu sajak-sajak percintaan muni. Penyair terkenal yang melahirkan banyak jenis syair ini ialah Qays alias Majnun bin Amir. Kisah cintanya yang mendalam kepada seorang gadis bernama Layla, menarik perhatian masyarakat Arab dan diabadikan dalam kisah yang sangat terkenal Layla wa Majnun. Temaghazal a-uzri ialah cinta murni yang didasarkan atas ajaran Islam. Cinta sepertiitu menuntut ketulusan, pengurbanan dan kesucian.



Bentuk syair yang disebut hija’ (sindiran) juga digemari. Melalui hija’ mereka melontarkan kritik atau kecaman terhadap ketimpangan yang berlaku dalam masyarakat seperti ketidakadilan penguasa, penyelewenganyang dilakukan pejabat, pemimpin agama dan politisi.


Biasanya hija’ ditulis untuk mengecam orang-orang yang perilakunya menyimpang dari ajaran agama. Di antara penulis hija’ yang terkenal ialah Farazdaq (w. 728 M). Contohnya ialah syair yang dikarang penyair Khawarij untuk mengejek pengikut Mu’awiyah:



Kau membanggakan dua ribu orang beriman


Berada di belakangmu bukan?


Tak malu, sedangkan mereka itu tewas tersungkur


Di tangan empat puluh perajurit kami di Asak


Kau bohong, mereka pengecut



Tak seperti yang kaubanggakan



Sastra Arab mulai memperlihatkan perkembangan pesat pada zaman Daulah Umayyah.





Madina, kota awal pusat peradaban Islam

◄ Newer Post Older Post ►
 

© KOMPAS.WEB.ID Powered by Blogger